Pola Jumlah Fi’liyah (Kalimat Verbal) dalam Bahasa Arab



Baca juga PANDUAN MUDAH MENGETIK TEKS ARAB DI MS WORD 

Artikel ini lanjutan dari artikel sebelmunya yang berjudul “Bahasa Arab untuk Pemula Pola Kalimat Nominal dalam Bahasa Arab”.

 

Kalimat Verbal dalam Bahasa Arab (Jumlah Fi’liyah)

Setelah kita paham konsep kalimat nominal dalam bahasa Arab (Jumlah Ismiyyah) yang terdapat pada artikel sebelumnya, konsep selanjutnya yang harus kita pahami adalah kalimat verbal dalam bahasa Arab (Jumlah Fi’liyyah).

Dalam bahasa Arab, Jumlah Fi’liyyah adalah jumlah yang diawali kata kerja (Fi’il). Karena di awali kata kerja, maka boleh kata kerja jenis apa saja, baik kata kerja lampau (Fi’il Madhi), kata kerja sekarang / akan datang (Fi’il Mudhari’), kata kerja perintah (Fi’il Amr), maupun kata kerja larangan (Fi’il Nahyi). Agar lebih jelas, berikut contoh masing-masing kalimatnya.

-  Fi’il Madhi (الفعل الماض) masa lampau

Contohnya:

ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ: Muhammad telah pergi ke sekolah

ذَهَبَ : Fi’il Madhi

مُحَمَّدٌ : Fa’il

إِلَى الْـمَدْرَسَةِ : keterangan

-  Fi’il Mudhari’(الفعل المضارع) sekarang / akan datang

Contohnya:

يَذْهَبُ مُحَمَّدٌ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ : Muhammad sedang / akan pergi ke sekolah

يَذْهَبُ : Fi’il Mudhari

مُحَمَّدٌ : Fa’il

 إِلَى الْـمَدْرَسَةِ: keterangan

-  Fi’il Amr (فعل الأمر) kata kerja perintah melakukan sesuatu

Contohnya:

يَا مُحَمَّدُ  اِذْهَبْ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ: Wahai Muhammad pergilah ke sekolah

اِذْهَبْ : Fi’il Amr

إِلَى الْـمَدْرَسَةِ : keterangan

يَا مُحَمَّدُ : Munada (panggilan)

-  Fi’il Nahyi (فعل النهي) kata kerja larangan melakukan sesuatu

Contohnya:

لَا تَذْهَبْ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ يَا مُحَمَّدُ: Jangan pergi ke sekolah wahai Muhammad

لَا تَذْهَبْ : Fiil Nahyi (larangan)

إِلَى الْـمَدْرَسَةِ : keterangan

يَا مُحَمَّدُ : Munada (panggilan)

 

Setelah kita paham konsep awal Jumlah Fi’liyyah, selanjutnya akan dibahas rumus pola kalimat verbal (jumlah fi’liyya) tersebut secara rinci.

 

Rumus Jumlah Fi’liyyah

Sebagaimana Jumlah Ismiyyah yang sudah kita pelajari, Jumlah Fi’llyah pun memiliki rumusnya sendiri. Adapun rumusnya sebagai berikut:

1.    Fi’il + Fa’il (فعل + فاعل)

Di mana:

Fi’il = Predikat

Fa’il = Subjek

 

Contohnya:

جَلَسَ مُحَمَّدٌ : Muhammad duduk

جَلَسَ : Predikat

مُحَمَّدٌ : Subjek

ذَهَبَ مُحَمَّدٌ : Muhammad pergi

ذَهَبَ : Predikat

مُحَمَّدٌ : Subjek

Jika kita perhatikan, contoh kalimat verbal (jumlah fi’liyyah) di atas hanya terdiri atas Subjek dan Predikat saja. Di mana, pada kalimat جَلَسَ مُحَمَّدٌ kata جَلَسَ berupa fi’il madhi dan posisinya sebagai predikat dan kata مُحَمَّدٌ sebagai subjek. Sedangkan pada alimat ذَهَبَ مُحَمَّدٌ yang menjadi subjek adalah مُحَمَّدٌ dan kata ذَهَبَ sebagai predikatnya.

Sederhananya, rumus pertama menunjukkan bahwa kalimat verbal bahasa Arab (jumlah fi’liyyah) yang terdiri dari Subjek + Predikat saja, itu hanya berlaku kata kerja (fi’il) yang sama sekali tidak membutuhkan objek. Sedangkan apabila fi’il tersebut membutuhkan adanya objek, maka akan menggunakan rumus nomor 2.

 

2.    Fi’il + Fa’il + Maf’ul bih (فعل + فاعل + مفعول به)

Di mana:

Fi’il = Predikat

Fa’il = Subjek

Maf’ul bih  = Objek

Contohnya:

قَرَأَ مُحَمَّدٌ اَلْقُرْآنَ: Muhammad membaca Al-Qur’an

Kita perhatikan bahwa kalimat  قَرَأَ مُحَمَّدٌ اَلْقُرْآنَ merupakan kalimat yang terdiri dari fi’il + fa’il + maf’ul bih dengan rincian sebagai berikut:

قَرَأَ : Predikat

مُحَمَّدٌ : Subjek

اَلْقُرْآنَ: Objek

Secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa rumus nomor 2: fi’il + fa’il + maf’ul bih ini berlaku ketika fi’ilnya berupa fi’il yang membutuhkan objek. Seperti pada contoh di atas, fi’il berupa kata قَرَأَ (membaca). Pasti jika ada kalimat misalnya, “Muhammad membaca” namun tidak ada objek yang dibaca, maka kalimat tersebut belum sempurna, dikarenakan masih menimbulkan pertanyaan. Berbeda halnya ketika objeknya disebutkan yaitu kata اَلْقُرْآنَ maka kalimat menjadi sempurna.

 

 

3.    Fi’il + Naibul Fa’il (نائب الفاعل)

Di mana:

Fi’il = Predikat

Naibul Fa’il = pengganti Fa’il (Maf’ul yang posisinya digeser jadi Fa’il)

Contohnya:

ضُرِبَ عَمْرٌ: Amr dipukul

ضُرِبَ : Fi’il

عَمْرٌ : Naibul Fa’il (pengganti fa’il)

Mungkin kita bertanya, apakah naibul fa’il itu? Jawabannya adalah bahwa naibul fa’il merupakan pengganti dari fa’il, dikarenakan fa’ilnya tidak disebutkan karena alasan tertentu. Sederhananya, naibul fai’il adalah maf’ul bih yang digeser posisinya menjadi fa’il. Agar lebih jelas perhatikan penjelasan berikut ini:

-  Asal:

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا: Zaid memukul Amr

ضَرَبَ : Fi’il (Predikat)

زَيْدٌ : Fa’il (Subjek)

عَمْرًا : Maf’ul (Objek)

-  Hasil:

ضُرِبَ عَمْرٌ: Amr dipukul

ضُرِبَ : Fi’il (Predikat)

عَمْرٌ : Naibul Fai’il (Subjek pengganti)

Kalau kita perhatikan antara kalimat pertama dan kedua:

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا: Zaid memukul Amr

ضُرِبَ عَمْرٌ: Amr dipukul

Maka kita dapati bahwa sesungguhnya yang terkena pukulan adalah si Amr. Di kalimat pertama Zaid memukul Amr. Di kalimat kedua Amr dipukul. Jadi, pada intinya, rumus nomor 3 khusus digunakan untuk jumlah fi’liyyah yang fi’ilnya membutuhkan objek, namun subjeknya disembunyikan.

SyifArabic

SyifArabic Seorang Guru Bahasa Arab di SMA Lulusan S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN Malang

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog Kami

Lebih baru Lebih lama