Pola Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal) dalam Bahasa Arab




Artikel ini akan membahas pola kalimat dalam bahasa Arab dan merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul Bahasa Arab Dasar untuk Pemula. Bagi yang ingin membaca artikel sebelumnya silahkan diklik saja judul artikel tersebut.

Seperti yang kita ketahui dari artikel sebelumnya, bahasa Arab memiliki komponen yang sangat dasar yaitu, 1) huruf, 2) pola kata, 3) pola kalimat. Huruf dan kata dalam bahasa Arab telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.

 Kalimat dalam Bahasa Arab

Prinsip sederhana dari kalimat adalah bahwa kalimat merupakan rangkaian dari beberapa kata. Dalam bahasa Arab, kalimat disebut Jumlah (جُمْلَةْ). Dalam bahasa Arab, Jumlah bisa diawali oleh kata benda (Isim), bisa juga diawali oleh kata kerja (Fi’il). Seperti pada contoh berikut ini:

اَلـْمِثَالُ الْأَوَّلُ: contoh kesatu

-      اَلـْمَسْجِدُ كَبِيْرٌ: Masjid itu besar

-      اَلْـمَدْرَسَةُ كَبِيْرَةٌ: Sekolah itu besar

-      اَلْبَيْتُ وَاسِعَةٌ: Rumah itu luas

-      اَلسَّيَّارَةُ جَمِيْلَةٌ: Mobil itu bagus

المثال الثاني: contoh kedua

-      جَاءَ مُحَمَّدٌ: Muhammad telah datang

-      ذَهَبَ سَلْمَانْ إِلَى السُّوْقِ: Salman pergi ke pasar

-      رَأَيْتَ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ: Aku telah melihat bintang di langit

-      رَجَعَ أَبِي مِنَ الْـمَكْتَبِ: Ayahku telah pulang dari kantor


Pada contoh kesatu di atas, kita dapati bahwa kalimat kesatu diawal oleh kata اَلـْمَسْجِدُ yang mana kata اَلـْمَسْجِدُ merupakan Isim (kata benda). Begitu pula kalimat kedua yang diawali kata اَلْـمَدْرَسَةُ, kalimat ketiga yang diawali kata اَلْبَيْتُ, dan kalimat keempat yang diawali kata اَلسَّيَّارَةُ semuanya diawali oleh Isim. Nah, dalam bahasa Arab, kalimat-kalimat yang diawali oleh Isim (kata benda) disebut sebagai Jumlah Ismiyyah (الجملة الاسمية). Jadi, Jumlah Ismiyah adalah jumlah yang diawali Isim (kata benda).

Sedangkan pada contoh kedua semua kalimat diawali oleh Fi’il (kata kerja). Kalimat pertama diawali oleh kata جَاءَ, kalimat kedua diawali oleh kata ذَهَبَ, kalimat ketiga diawali oleh kata رَأَيْتَ, dan kalimat keempat diwali oleh kata رَجَعَ. Kalau kita lihat, keempat kata tersebut adalah Fi’il (kata kerja). Sehingga, keempat kalimat yang ada pada contoh kedua semuanya diawali oleh kata kerja. Oleh karena itu, kalimat-kalimat bahasa Arab yang diawali oleh Fi’il (kata kerja) disebut Jumlah Fi’liyyah (الجملة الفعلية).

Rangkuman dari keterangan di atas adalah: pola kalimat (Jumlah) dalam bahasa Arab hanya ada dua pola, yaitu:

1.    Jumlah Ismiyyah (الجملة الاسمية) yaitu Jumlah yang diawali oleh kata benda.

2.    Jumlah Fi’liyyah (الجملة الفعلية) yaitu Jumlah yang diawali oleh kata kerja.

Pola Kalimat dalam Bahasa Arab

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pola kalimat dalam bahasa Arab hanya ada dua, yaitu Jumlah Ismiyyah dan Jumlah Fi’liyyah. Karena kita sudah paham prinsip Jumlah Ismiyyah dan Jumlah Fi’liyyah, maka selanjutnya kita akan membahas konsep rumus dari Jumlah Ismiyyah dan Jumlah Fi’liyyah tersebut.

1.    Rumus Jumlah Ismiyyah

Jumlah Ismiyyah memiliki 2 rumus sederhana, yaitu:

a.    Mubtada’ + Khobar (مبتدأ + خبر)

Contohnya:

-      اَلـْمَسْجِدُ كَبِيْرٌ: Masjid itu besar

-      اَلْـمَدْرَسَةُ كَبِيْرَةٌ: Sekolah itu besar

-      اَلْبَيْتُ وَاسِعَةٌ: Rumah itu luas

-      اَلسَّيَّارَةُ جَمِيْلَةٌ: Mobil itu bagus

Kalau kita cermati contoh kalimat di atas, kita dapati bahwa pola kalimat di atas terdiri dari Mubtada (awalan) + Khobar (penjelas Mubtada). Adapun rinciannya sebagai berikut:

-      اَلـْمَسْجِدُ كَبِيْرٌ: Masjid itu besar

اَلـْمَسْجِدُ     : مبتدأ

كَبِيْرٌ            : خبر

-      اَلْـمَدْرَسَةُ كَبِيْرَةٌ: Sekolah itu besar

اَلْـمَدْرَسَةُ    : مبتدأ

كَبِيْرَةٌ          : خبر

-      اَلْبَيْتُ وَاسِعَةٌ: Rumah itu luas

اَلْبَيْتُ          : مبتدأ

وَاسِعَةٌ        : خبر

-      اَلسَّيَّارَةُ جَمِيْلَةٌ: Mobil itu bagus

اَلسَّيَّارَةُ      : مبتدأ

وَاسِعَةٌ        : خبر 

Mubtada

Secara sederhana Mubtada diartikan sebagai isim yang jatuh di awal kalimat. Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu: 1) Mubtada Isim Dhohir, 2) Mubtada Isim Dhomir. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

-       Mubtada Isim Dhohir adalah Mubtada yang berupa isim dhohir (bukan dhomir), seperti pada contoh di atas.

-       Mubtada Isim Dhomir adalah Mubtada yang berupa isim dhomir (kata ganti). Kata ganti dalam bahasa Arab dibedakan menjadi dua, yaitu untuk laki-laki (mudzakkar) dan untuk perempuan (muannats). Rincian kata ganti dalam bahasa Arab sebagai berikut:

هُوَ

Dia laki-laki

هُمَا

mereka berdua (laki-laki)

هُمْ

Mereka (laki-laki)

هِيَ

Dia perempuan

هُمَا

Mereka berdua (perempuan)

هُنَّ

Mereka (perempuan)

أَنْتَ

Kamu (laki-laki)

أَنْتُمَا

Kamu berdua (laki-laki)

أَنْتُمْ

Kalian (laki-laki)

أَنْتِ

Kamu (perempuan)

أَنْتُمَا

Kamu berdua (perempuan)

أَنْتُنَّ

Kalian (perempuan)

أَنَا

Saya (laki-laki/perempuan)

نَحْنُ

Kami (laki-laki/perempuan)

 

 

Nah, jika kita dapati dalam sebuah kalimat ada dhomir seperti di tabel, maka itu adalah Mubtada yang berupa isim dhomir. Berikut contoh Jumlah Ismiyyah yang Mubtada’nya berupa isim dhomir:

-      أَنْتَ أُسْتَاذٌ: Anda adalah ustadz

أَنْتَ             : مبتدأ

أُسْتَاذٌ         : خبر

-      أَنَا طَالِبٌ: Saya adalah murid (laki-laki)

أَنَا               : مبتدأ

طَالِبٌ          : خبر

-      هِيَ طَالِبَةٌ: Dia adalah murid (perempuan)

هِيَ               : مبتدأ

طَالِبَةٌ         : خبر

Kesimpulannya adalah mubtada adalah kata yang jatuh di awal kalimat dan bisa berupa isim dhohir atau berupa isim dhomir (kata ganti).

 

Khobar

Pada penjelasan di atas kita tahu bahwa khobar adalah penjelas mubtada. Dalam bahasa yang sederhana, khobar merupakan kata yang menjelaskan ihwal mubtada.

Pada pembahasan selanjutnya, khobar terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

1)   Khobar Mufrad  (خبر مفرد)

Adalah khobar yang berupa satu kata saja, bukan gabungan dari 2 kata atau lebih. Contohnya: اَلْـمَدْرَسَةُ كَبِيْرَةٌ dalam contoh tersebut kata كَبِيْرَةٌ hanya berupa satu kata saja, bukan gabungan dari 2 kata atau lebih.

2)   Khobar Jumlah (خبر  جملة)

Adalah khobar yang berupa Jumlah (kalimat). Jadi, khobarnya ini berupa kalimat lengkap sempurna. Tentu, karena berupa kalimat maka khobar ini pasti berupa gabungan dari 2 kata atau lebih.

Nah, seperti yang kita pelajari sebelumnya bahwa kalimat (jumlah) dalam bahasa Arab hanya ada 2 (dua), yaitu Jumlah Ismiyyah yang diawali oleh isim dan Jumlah Fi’liyyah yang diawali oleh fi’il. Karena itu, maka khobar jumlah juga ada 2 (dua) jenis, yaitu:

a-    Khobar Jumlah Ismiyyah

Adalah khobar yang berupa Jumlah Ismiyyah, contohnya:

-      هَذَا الرَّجُلُ هُوَ مُحَمَّدٌ: Laki-laki ini adalah Muhammad

هَذَا الرَّجُلُ: مبتدأ

هُوَ مُحَمَّدٌ: خبر جملة اسمية

*هُوَ : مبتدأ

*مُحَمَّدٌ       : خبر

Pada contoh tersebut, khobarnya adalah هُوَ مُحَمَّدٌ. Nah, هُوَ مُحَمَّدٌ adalah jumlah ismiyyah karena diawali oleh isim berupa هُوَ (isim dhomir / kata ganti). Di mana kata هُوَ mejadi Mubtada dan kata مُحَمَّدٌ khobar bagi kata هُوَ. Jadi dalam hal ini ada 2 (dua) mubtada dan 2 (dua) khobar. Khobar pertama miliknya mubtada pertama, sedangkan khobar kedua miliknya mubtada kedua.

 

b-   Khobar Jumlah Fi’liyyah

Adalah khobar yang berupa jumlah fi’liyah, contohnya:

-      مُحَمَّدٌ قَامَ أَبُوْهُ: Muhammad yang ayahnya berdiri

مُحَمَّدٌ         : مبتدأ

قَامَ أَبُوْهُ     : خبر جملة فعلية

*قَامَ           : فعل

*أَبُوْهُ           : فاعل

Sama seperti khobar jumlah ismiyyah, khobar jumlah fi’liyyah juga berupa gabungan 2 (dua) kata atau lebih. Pada contoh di atas, yang menjadi khobar adalah sebuah kalimat قَامَ أَبُوْهُ yaitu jumlah fi’liyyah yang diawali oleh fi’il, dan terdiri atas fi’il + fa’il. Oleh karena itu khobar tersebut disebut sebagai khobar jumlah fi’liyyah. 

 

3)   Khobar Syibhu Jumlah (خبر شبه الجملة)

Sederhananya, khobar syibhu jumlah adalah khobar yang menyerupai jumlah dalam hal susunan kata yang terdiri dari 2 (dua) kata atau lebih. Jadi, di sini khobar tersusun dari dua kata atau lebih, namun bukan jumlah, hanya mirip atau menyerupai jumlah saja. Contoh dari khobar yang demikian adalah sebagai berikut:

-      مُحَمَّدٌ فِي السُّوْقِ: Muhammad di kelas

مُحَمَّدٌ         : مبتدأ

فِي السُّوْقِ   : خبر شبه الجملة

* فِي             : حرف الجر

*السُّوْقِ      : اسم

Pada contoh di atas kita lihat tersusun dari mubtada dan khobar. Mubtadanya berupa kata مُحَمَّدٌ sedangkan khobarnya berupa frasa فِي السُّوْقِ. Frasa فِي السُّوْقِ berupa gabungan dari kata فِي (huruf) dan kata السُّوْقِ (isim). Oleh karena itu, karena susunan frasa فِي السُّوْقِ mirip dengan susunan jumlah baik jumlah ismiyyah atau jumlah fi’liyyah, maka khobar tersebut disebut sebagai khobar syibhu jumlah (khobar yang mirip dengan jumlah).

 

b.   Khobar Muqoddam + Mubtada’ Muakhkhor (خبر مقدم + مبتدأ مؤخر)

Prinsip utama jumlah ismiyyah adalah menggunakan rumus mubtada + khobar. Jadi, mubtada berada di awal, sedangkan khobar berada setelah mubtada. Namun, pada perkembangannya, ada lagi rumus jumlah ismiyyah yaitu khobar penempatannya didahulukan dari mubtadanya. Maksudnya khobar di depan, mubtada di belakang.

Nah, konsep khobar di depan dan mubtada di belakang inilah yang kita kenal dengan istilah khobar muqoddam (khobar yang didahulukan) + mubtada muakhkhor (mubtada yang diakhirkan).

Posisi khobar di depan dan mubtada di belakang ini digunakan pada kondisi tertentu. Artinya, yang populer dari jumlah ismiyyah adalah susunan mubtada + khobar, bukan khobar muqoddam + mubtada muakhkhor. Dan istilah yang populer lainnya adalah mubtada harus berupa isim makrifat (isim yang menunjukkan makna khusus), bukan isim nakiroh (isim yang menunjukkan makna umum). Jadi dalam kondisi normal, mubtada harus isim makrifat.

Secara sederhana, susunan khobar muqoddam + mubtada muakhkhor terjadi apabila mubtada berupa isim nakirah. Isim nakirah adalah isim yang menunjukkan makna umum. Lawan dari isim nakiroh adalah isim ma’rifat (isim yang menunjukkan makna khusus).

Pembahasan lebih detail terkait jumlah ismiyyah dengan rumus khobar muqoddam+mubtada muakhkhor ada pada contoh berikut ini:

-      فِي الْفَصْلِ أُسْتَاذٌ: di kelas ada Ustadz

فِي الْفَصْلِ   : خبر مقدم

أُسْتَاذٌ         : مبتدأ

Pada contoh di atas kita melihat bahwa yang menjadi mubtada adalah kata  أُسْتَاذٌ. Kata أُسْتَاذٌ menunjukkan makna umum, ustadz yang mana saja, tidak tertentu. Jika ingin menjadikan kata tersebut makrifat (tertentu) maka ditambah ال menjadi اَلْأُسْتَاذُ. Nah, karena mubtada pada kalimat di atas adalah berupa isim nakiroh, maka mubtada harus diakhirkan (mubtada diletakkan di belakang khobar). Sedangkan yang menjadi khobar adalah فِي الْفَصْلِ. Kenapa khobar didahulukan? Jawabannya adalah karena mubtadanya berupa isim nakiroh. Kalau seandainya mubtada pada kalimat di atas berupa isim makrifat tentu beda lagi rumusnya, yakni menggunakan rumus yang pertama.


 BACA JUGA: Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an


* Untuk pembahasan terkait jumlah fi’liyyah insya Allah akan dibahas di artikel berikutnya.

SyifArabic

SyifArabic Seorang Guru Bahasa Arab di SMA Lulusan S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN Malang

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog Kami

Lebih baru Lebih lama